BERYL
“Ken, Kenya!”
Kenya mengerucutkan bibir kecil dan mati matian menahan kekesalannya karena Galang menganggunya memecahkan soal fisika yang baru Ia kerjakan beberapa menit lalu. Kenya mengangkat kepala, memandang sahabatnya yang sekali lagi harus Ia akui tampan dalam hati. Kedua mata berwarna hijau dari Galang seolah membius Kenya masuk kedalam sana. Seperkian detik keduanya saling bertatapan.
“Lo dengar gak sih yang gue omongin?!” Tanya Galang berdecak kesal karena Kenya dengan mudahnya mengangkat bahu. Tatapannya seolah berkata, emang apa peduli gue.
“Kenya!”
Kenya kembali mengangkat kepala memandang Galang dengan malas. Sahabat satu satunya ini memang sangat usil dan selalu menganggunya saat jam pelajaran seperti ini hanya dengan menceritakan date-nya bersama gadis gadis populer disekolah Budi Cinta atau sekolah lainnya bahkan model model terkenal, mengingat ketampanan sahabat Kenya yang satu itu.
“Apa sih? Lo omong apa tadi emangnya?” Tanya Kenya santai lagi lagi membuat Galang menarik nafas pelan. Galang melirik guru fisika yang sedang menjelaskan didepan kelas sekilas lalu beralih kembali pada Kenya.
“Ck. Jadi lo beneran gak dengar apa yang gue omongin tadi? Oh God. Kenya Priscilia, please. Mulut gue udah berbuih dari tadi dan lo Tanya apa yang gue omongin tadi? Lo gila?” Tanya Galang frustasi.
Kenya menyengir dan mengangkat dua jarinya membentuk perumpamaan peace pada Galang, “Sorry. Lo lihat sendiri kan gue lagi coba kerjakan soal Pak Dani.” Jawab Kenya tenang.
“Lo bisa nyontek dari punya gue, Kenya. Demi Tuhan, gue kesel setengah mati sama lo.” Ucap Galang menarik pena Kenya ketika Kenya berniat kembali melanjutkan tugasnya. Kenya mendelik kesal pada Galang dan mencoba mengambil penanya kembali.
“Ish. Apaan sih lo? Kembalikan gak! Nanti Pak Dani kedengaran dan kita kena hukum,Galang.” Bisik Kenya menekankan setiap katanya.
Galang menjulurkan lidahnya, membuat pemuda berumur tujuh belas tahun itu kelihatan seksi. Kepalanya menggeleng membalas Kenya,“Siapa suruh gak dengar cerita gue tentang Gina, cewek yang baru nembak gue semalam.” Ucapnya tenang.Perlahan tapi pasti Kenya menghentikan gerakannya untuk mengambil pena miliknya lalu dengan santainya Kenya membongkar tas Galang dan menemukan satu pena. Diambilnya pena tersebut sebagai pengganti penanya dan kembali menulis dengan tenang. Kenya tahu betul Galang sedang memandangnya dengan kesal seolah ingin memakan Kenya hidup hidup saat ini.Tapi Kenya tidak peduli. Sungguh Kenya malas mendengar kisah cinta sahabatnya yang hanya berujung hari atau satu bulan saja. Kapan sih sahabatnya itu bisa berubah?
“Kenya, lo marah?” Tanya Galang persis seperti bisikan. Pemuda itu hampir menempelkan bibirnya di telinga Kenya ketika bertanya, cukup takut dengan suasana kelas yang tak bersuara, terutama Pak Dani termasuk guru killer disekolah mereka.
Kenya menggerakan kepalanya menghadap sumber bisikan. Seperkian detik Kenya terkejut mendapati Galang berada sedekat ini padanya. Seketika itu dadanya berdegup kencang ketika Galang menyentuh tangannya seperti biasa, selayaknya seseorang yang mencoba membujuk sahabatnya.
“Gue cuman mau kasih tau lo kalau gue udah jadian sama Gina. Kemarin dia nembak gue dan well, gue rasa gak salah. Lagipula dia cakep dan yah dia model seantero Jakarta. Gue pengen lo tau dari gue, bukan dari orang lain.” Jelas Galang tanpa menjauhkan dirinya.
Kenya menelan ludah. Sesungguhnya Ia sudah mendengar berita ini tengah malam ketika Ia sedang bermain social media. Beberapa teman sekelasnya mengucapkan selamat untuk sahabatnya itu namun Kenya tidak menyangka Galang akan secepat ini berpacaran lagi setelah putus dari Clara, desainer muda yang lebih tua dari mereka beberapa tahun.Kenya membuang mukanya namun secepat itu Galang menangkupkan wajahnya. Kedua pasang mata mereka bertemu. Kenya hanya dapat menahan kekesalan ketika Galang tersenyum geli. Entah apa yang dipikirkan sahabat tampannya itu. Yang jelas Kenya sedang kesal pada sahabatnya. Dasar playboy.
“Please jangan marah dulu. Gue janji gak bakal putusin dia tanpa sebab. Gue udah naksir sama dia beberapa hari yang lalu, ken. Gue kira gue bisa cinta sama dia. Ucapin selamat dong.” Bisik Galang tersenyum bahagia seketika menghentakkan Kenya. Entah bagaimana caranya perkataan Galang mampu menumbuk perasaan Kenya.
“Se,selamat kalo gitu.” Balas Kenya terdengar sedikit bergetar. Seperkian detik Galang menyergitkan dahi memandang Kenya. Kenya yang sadar, buru buru menahan nafas dan mencoba mengontrol dirinya agar tidak kelepasan. Dipasangnya wajah kesal seperti biasa dan menyikut lengan Galang sembari menarik Galang menjauh.
“Awas tuh kalau lo lukain perasaan cewek lagi. Jagain apa yang sudah ada. Gue gak akan maafin lo.” Ucap Kenya dibalas Galang dengan cengiran.
“Lo juga bilang kayak gitu pas gue pacaran sama Clara.” Ucap Galang langsung mendapatkan pelototan dari Kenya namun buru buru Galang mengacak rambut Kenya dan menatap Kenya dengan sungguh sungguh.
“Oke. Gue janji.” Ucap Galang membuat Kenya mengigit bibirnya dalam diam. Buru buru Kenya memalingkan wajah. Berpura pura sibuk pada tugasnya bukan ide yang buruk bagi Kenya. Kedua matanya berkaca kaca setelah Galang maju kedepan kelas saat Pak Dani memanggil Galang menyelesaikan soal. Maklum, Galang memang pintar, selain tampan. Ia juga pandai melukis dan bermain musik.
Diam diam Kenya mengangkat wajah, memandang punggung Galang dari kejauhan dengan rasa yang masih sama sejak dua tahun lalu. Dan entah mengapa kali ini rasa sakitnya lebih besar mengingat kesungguhan tercetak jelas diwajah Galang ketika membahas Gina. Seketika itu Kenya hanya dapat mengigit jarinya karena memang selama inilah Kenya selalu menasihati Galang untuk berhenti bermain main.Kenya menutup mata gusar dan menarik nafas pelan. Entah butuh berapa lama lagi Kenya memendam rasa ini kepada sahabatnya. Bahkan setelah dikasih kode kepada sahabatnya, Galang masih tidak mengerti. Kenya menelan ludah dengan susah payah melihat Galang sudah berjalan kearahnya. Kembali Kenya menundukan wajah dan berpura pura sibuk pada hitungan fisika. Hatinya tidak sanggup memandang Galang untuk sementara. Melihatnya sama saja melukai perasaan Kenya. Jadi mungkin untuk beberapa jam kedepan Kenya akan bersikap dingin pada Galang.Tolong jangan salahkan dirinya. Ia sudah cukup rendah hati mengatakan pada Galang untuk menjaga sesuatu yang Ia miliki. Walaupun status Kenya hanya selamanya akan menjadi sahabat Galang, tapi tetap saja bukan Kenya punya peluang besar meninggalkan Galang dengan rasa cintanya sendiri. Pemuda itu kurang peka dan Kenya hanya seorang gadis yang terlalu bodoh menambatkan nama Galang dalam hatinya selama ini.
***
Semula Kenya mengira Galang akan berubah seratus delapan puluh derajat setelah menemukan seseorang yang Ia sukai. Galang masih saja sama. Pemuda itu masih suka menjahili teman teman sekelas dan masih suka menganggu Kenya. Walau status Galang bukan lagi available, Pemuda itu masih bersikap welcome pada semua gadis gadis. Namun semuanya berubah setelah pertengkaran Galang dengan Gina beberapa minggu lalu. Masih teringat jelas bagi Kenya ketika Galang datang ke rumahnya malam malam hanya berkata, ‘Ken, gue berantam sama Gina. Gue gak tahu harus gimana. Gue binggung.’
Sejak saat itu Kenya mengambil kesimpulan sendiri, sahabatnya sudah jatuh cinta dengan Gina. Artinya, Kenya siap mundur sebelum tempur. Bodohnya Kenya memberi masukan masukan pada Galang dan memintanya untuk bersabar dengan Gina. Satu kejadian yang tidak dapat Ia lupakan ketika Galang memeluknya sebelum pergi. Bodohnya Kenya sempat merasakan debaran debaran dalam hati sementara sahabatnya sedang terluka. Galang terlihat begitu galau karena pertengkarannya dengan Gina, hal yang pertama kali terjadi dalam sejarah hidup Galang.Galang sendiri sudah tidak masuk kelas selama tiga hari. Selama tiga hari itu pula komunikasi diantara mereka benar benar putus. Baru Kenya ketahui Galang sedang di Singapore untuk mengejar Gina. Itupun Kenya dapatkan informasi dari sekretaris kelas. Selama itu Kenya hanya dapat menahan dirinya agar tidak marah ataupun kesal. Sungguh Ia tidak punya hak untuk marah walau Galang tidak pernah mengangkat teleponnya, tidak pernah membalas smsnya, bbm hingga line dan email. Galang benar benar tidak lagi terjangkau. Bahkan sejak kepulangan Galang beberapa hari lalu, Galang menjadi sosok yang berbeda.Galang memilih pindah posisi duduk. Tidak ada lagi namanya sahabat. Mungkin, pikir Kenya. Lantas apa gunanya arti sahabat jika Galang memilih berbagi tawa pada teman teman sekelas dan menghiraukannya yang tidak bersalah sama sekali?Kenya berusaha menghiraukan Galang juga setelah selama dua hari kepulangan Galang, Kenya selalu mengejar Galang dan mencoba menanyakan keadaan Galang seperti orang kesetanan. Namun Galang tetap Galang. Ia menatap Kenya dengan dingin bahkan setiap pertanyaan Kenya hanya dibalas Galang dengan gumaman kecil. Suatu tindakan yang kecil memang namun cukup menyadarkan Kenya untuk mengambil keputusan.
Sejak saat itu Kenya mengambil kesimpulan sendiri, sahabatnya sudah jatuh cinta dengan Gina. Artinya, Kenya siap mundur sebelum tempur. Bodohnya Kenya memberi masukan masukan pada Galang dan memintanya untuk bersabar dengan Gina. Satu kejadian yang tidak dapat Ia lupakan ketika Galang memeluknya sebelum pergi. Bodohnya Kenya sempat merasakan debaran debaran dalam hati sementara sahabatnya sedang terluka. Galang terlihat begitu galau karena pertengkarannya dengan Gina, hal yang pertama kali terjadi dalam sejarah hidup Galang.Galang sendiri sudah tidak masuk kelas selama tiga hari. Selama tiga hari itu pula komunikasi diantara mereka benar benar putus. Baru Kenya ketahui Galang sedang di Singapore untuk mengejar Gina. Itupun Kenya dapatkan informasi dari sekretaris kelas. Selama itu Kenya hanya dapat menahan dirinya agar tidak marah ataupun kesal. Sungguh Ia tidak punya hak untuk marah walau Galang tidak pernah mengangkat teleponnya, tidak pernah membalas smsnya, bbm hingga line dan email. Galang benar benar tidak lagi terjangkau. Bahkan sejak kepulangan Galang beberapa hari lalu, Galang menjadi sosok yang berbeda.Galang memilih pindah posisi duduk. Tidak ada lagi namanya sahabat. Mungkin, pikir Kenya. Lantas apa gunanya arti sahabat jika Galang memilih berbagi tawa pada teman teman sekelas dan menghiraukannya yang tidak bersalah sama sekali?Kenya berusaha menghiraukan Galang juga setelah selama dua hari kepulangan Galang, Kenya selalu mengejar Galang dan mencoba menanyakan keadaan Galang seperti orang kesetanan. Namun Galang tetap Galang. Ia menatap Kenya dengan dingin bahkan setiap pertanyaan Kenya hanya dibalas Galang dengan gumaman kecil. Suatu tindakan yang kecil memang namun cukup menyadarkan Kenya untuk mengambil keputusan.
“Ken.” Panggil Claura, teman sebangku Kenya sekarang.
“Besok ada party ultah Galang. Lo mau ikut bareng bareng kita gak?” Tanya Claura menghentakan Kenya. Sejenak Kenya melirik Galang yang sedang asyik bermain ponsel. Pemuda itu menutup layar ponselnya lalu kembali bercakap cakap dengan teman teman prianya. Sama sekali sosok yang asing dan menyakitkan.
Kenya menggelengkan kepala, menolak halus. Ada malu ketika Claura bertanya kenapa. Lagipula tidak mungkin kan Kenya pergi ke tempat yang tak menginginkannya. Diundang saja tidak. Mungkin Galang sudah melupakan Kenya sepenuhnya.
“Kalian aja,Ra. Gue ada acara juga besok.” Jawab Kenya menimbulkan Tanya pada Claura. Dengan ragu ragu Claura bertanya,“Lo lagi gak berantam sama sohib sehidup semati lo itu kan?” Tanya Claura setengah menjerit hingga membuat sekelas memandang kearah mereka. Dari sudut matanya Kenya yakin Galang sempat memadang mereka namun Kenya tidak ada niat sama sekali memandangnya kembali.Kenya tersenyum getir sebagai balasan lalu buru buru membereskan buku bukunya diatas meja. Setelah selesai, Kenya menenteng tasnya dan berniat meninggalkan kelas. Namun lagi lagi suara Claura yang memang cukup keras menghentikan langkah Kenya.
“Lo mau kemana, ken?” Tanya Claura binggung.
“Pulang,Ra. Nyokap gue nelpon tadi. Gue mau ketemu kepsek buat ijin. Tolong bilang sama Kiran ya gue ijin.” Ucap Kenya meninggalkan kelas tanpa memandang Galang sama sekali. Hah, lagipula untuk apa Kenya memandang Galang jika akhirnya yang akan Ia dapatkan hanya tatapan sinis? Go to Hell, Galang. Lo emang cinta sama Gina kan sampai sampai segitunya? Kalau emang itu yang lo mau, baiklah. Mulai hari ini, lo bukan lagi sahabat gue. Lo dan gue, hanya akan saling memandang tanpa bertegur sapa lagi.
***
Mengenalnya selama kurang lebih enam tahun tidak membuat Kenya berarti dalam hidup Galang. Bodoh selama ini Kenya mencoba menutup mata. Lagipula mana mungkin Galang menganggapnya sebagai sahabat sesungguhnya jika semudah itu Galang menemukan orang lain dijadikan sebagai sahabat. Janji janji hanya tinggal janji. Seharusnya Kenya tidak percaya dengan janji Galang yang akan selalu melindungi dirinya. Buktinya saja kini Galang sudah menggoreskan luka hati Kenya.Tubuh Kenya bergetar melihat foto foto ulang tahun Galang yang diadakan disalah satu ballroom hotel terkemuka di Jakarta. Foto foto lucu dan kocak teman teman Galang hingga foto mesra Galang bersama Gina yang Kenya dapati di social media cukup mampu menjatuhkan air mata Kenya.Kenya membaringkan tubuhnya diatas kasur dan memandang langit langit malam dengan pandangan kosong. Andaikan Kenya dapat melarikan diri saat ini, pasti Kenya sudah melakukannya. Sayangnya Kenya sedang duduk di kelas terminal saat ini. Tidak ada pilihan lain selain bertahan selama beberapa bulan lagi menjelang kelulusan.Kenya menghembuskan nafas pelan sembari memeluk erat boneka teddy bear yang pernah Galang berikan padanya. Namun beberapa detik kemudian, seolah tersadar, Kenya membuang boneka teddy bear besar tersebut sembarangan. Sama sekali tidak ada alasan Kenya memegang atau menyimpan barang barang pemberiaan Galang.Secepat kilat Kenya membereskan kamarnya dari segala pemberian barang Galang. Dimulai dari tas, pakaian, bola basket, casing handphone dan masih banyak lagi kedalam kotak besar. Setelah selesai, Kenya duduk diatas ranjangnya, memandang kotak besar tersebut dengan hati yang terluka.Kenya kembali terisak. Kedua tangannya menutup wajahnya dan membaringkan tubuhnya. Benar, memikirkan Galang selalu terasa menyakitkan. Galang ibaratkan duri dalam hati Kenya. Sempat Kenya melirik sekilas jam beker diatas nakas meja yang menunjukan pukul dua belas malam, pertanda hari telah berganti. Peringatan hari lahir Galang telah berganti dengan peringatan hari lahir Kenya. Kenya tertawa getir, dan siapa pula yang peduli. Galang? Ah lupakan. Dia sudah bahagia. Bodoh, bukankah Kenya mau melupakan Galang?
***
Kenya memeluk erat beberapa buku bukunya ketika merasa seseorang membuntutinya. Dengan cekatan dan takut Kenya setengah berlari agar lebih cepat sampai kantor guru namun sebuah tangan menariknya dengan kasar dan menghempaskannya diujung koridor yang sepi.Kedua mata Kenya merah menyala mendapati Galang sedang berdiri dihadapannya. Catat, Galang notabane mantan sahabatnya sedang memandang Kenya dengan marah. Rahangnya mengeras ketika Kenya mencoba berlari.
“Apa apaan lo? Minggir!” Teriak Kenya.
“Justru harusnya gue yang bilang apa apaan lo. Buat apa lo balikin semua barang barang yang pernah gue kasih ke lo? Emangnya lo kira gue tempat sampah?!” Tanya Galang hampir menjerit.Kenya mendorong dada Galang menjauh dan mengutip buku bukunya yang jatuh karena perbuatan Galang. Mati matian Kenya berusaha menahan air mata yang mengintip dipelupuk matanya. Kenya menggeram ketika Galang menghalangi jalan Kenya. Ketika Kenya berjalan ke kanan, Galang melakukan hal yang sama. Dan ketika Kenya berjalan ke arah yang berlawanan, Galang juga akan melakukan hal yang sama.
“Apa apaan sih lo?! Emang salah gue balikan semua barang barang itu? Sorry kalau lo sakit hati mikir rumah lo gue jadikan tempat pembuangan sampah. Gue hanya melakukan hal yang seharusnya gue lakukan dari dulu. Gue gak mau menyimpan lagi barang barang dari lo. Terserah lo mau apakan barang barang lo. Yang jelas gue udah balikan ke lo dan terima kasih buat semuanya selama ini. Maaf traktiran lo selama ini gak bisa gue balikan karena udah masuk perut!” Ucap Kenya dalam satu tarikan nafas membuat Galang tercengang namun beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah.
“Gue gak pernah minta kembalikan! Lo kira gue memperhitungkan semua yang pernah gue kasih ke lo? Lo gila?” Teriak Galang sempat mengejutkan Kenya. Kenya membalas tatapan marah Galang dengan datar tanpa berniat membalas perkataan Galang sampai Galang mencengkram tangan Kenya hingga membuat Kenya meringis sakit.
“Gue kecewa sama lo. Segitu mudahnya lo berpikir seperti itu ke gue. Padahal selama ini gue iklas! Dan lo semudah ini bersikap gitu ke gue setelah semua ini? Lo kira gue siapa,Ken?! Lo kira gue cowok yang baru kenal lo semalam?! Hah!” Ucap Galang menekankan setiap katanya.Air mata yang sedari tadi mengintip sudah jatuh. Cengkraman Galang mulai melunak ketika melihat air mata Kenya. Kenya menepis tangan Galang dengan kasar ketika Galang hendak menyeka air matanya. Sontak Galang menahan rasa marah dan terkejut.
“Stop bentak bentak gue! Kalaupun ada orang yang pantas kecewa, itu gue! Bukan elo! Kalau lo iklas sama gue, lo gak bakal ninggalin gue. Kemana lo saat gue ultah semalam? Kemana lo saat gue butuh lo? Lo bilang lo bukan cowok yang baru kenal gue semalam tapi tindakan lo enggak sejalan dengan ucapan lo! Gue capek sama lo! Kalau gue gak balikan barang barang pemberian lo, masih lo berdiri disini buat cakapan sama gue? Gak kan?! Udahlah,lang. Gue capek banget sama lo. Mending lo pergi.” Ucap Kenya menyeka air matanya dengan kasar. Galang membasahi bibirnya. Merasakan rasa bersalah luar biasa. Rasanya sakit melihat Kenya bersikap seperti ini padanya. Kenya bahkan menolak Galang ketika Galang menahannya. Raut wajah kekecewaan dan kemarahan tercetak jelas diwajah Kenya.
“Ken. Please dengerin gue dulu. Gue, maaf. Maaf, gue, gue cuman berusaha jauh sama lo supaya Gina enggak mikir macam macam dengan hubungan persahabatan kita. Tapi sumpah,Ken, gue gak niat gituin lo. Gue beneran sayang sama lo. Lo sahabat gue, dan gue..”
Perkataan Galang terhenti ketika Kenya melayangkan tamparan di pipi Galang. Dada Kenya naik turun menahan amarah. Sebelah tangan Kenya yang bebas mengepal. Sama sekali tidak ada alasan Kenya mendengar penjelasan Galang. Cukup beberapa kalimat itu saja. Itu saja sudah cukup melukainya.
“Kalau lo sayang lo gak bakalan gituin gue! Bullshit! Karena cinta, lo buang jauh jauh persahabatan kita. Memangnya cuman dia yang selalu ada dipikiran lo sampe sampe dengan teganya lo nyuekin gue. Oke gue gak mempermasalahkan masalah party lo. Tapi adakah lo mikirkan perasaan gue? Gue sama sekali gak berbuat salah sama lo dan lo dengan tega melukai gue. Gue kecewa sama lo! Kemana arti sahabat saat gue berusaha hubungin lo?! Lo baru sadar punya sahabat sekarang,Lang? terlambat lang, terlambat.” Ucap lirih Kenya menundukan kepalanya. Kedua matanya sudah berlinang air mata. Kenya menjauh saat Galang mencoba mendekat. Diangkatkan kepalanya memandang Galang dengan rasa sakit dan perih dalam hati. Kenya mencoba bertahan ketika kedua pasang mata mereka bertemu. Dan mata hijau itu sungguh menggoreskan hati Kenya.
“Lo benar, Lo emang patut jauhin gue supaya Gina gak cemburu dan hubungan kalian bisa berjalan mulus. Tapi satu yang harus lo ingat, lo harus menjaga Gina sebaik mungkin, karena demi mendapatkan Gina, Lo kehilangan satu sahabat lo. Itulah artinya menjaga,lang. Lo gagal menjaga gue. Dan gue gagal mempertahankan lo.” Ucap Kenya berusaha tegar.
“Karena itu gue selalu meminta lo jaga semua yang lo punya. Tapi lo masih belum peka. Mungkin memang karena gue gak ada artinya buat lo. Jadi sekarang kita udahan aja,Lang. Lo sama cewek lo, dan gue sama kamuflase gue. Terima kasih untuk semua yang pernah terjadi. Sekalipun gue gak pernah menyesal pernah ngenal lo, karena lo adalah pemberian Tuhan yang paling terindah dapat gue rasakan, walau hanya sampai disini. Selamat tinggal, Galang Prasetiyo.” Sambung Kenya berjalan meninggalkan Galang yang terpaku mendengar kata demi kata Kenya.Menyesal,Lang? Sayangnya tidak ada lagi waktu menyesal bagi lo dan gue,Galang.
***
Pertengkaran antara Kenya dan Galang cukup banyak menguras tenaga dan pikiran Kenya. Sudah seminggu berlalu pertengkaran mereka namun kata kata Galang masih saja melekat bagaikan pelekat dalam otaknya. Kenya hanya dapat tersenyum miris sembari mencoret buku tulisnya dengan asal mengingat bagaimana cara Galang menahannya setelah bertransformasi menjadi pemuda yang sama sekali Kenya tidak kenal. Dan parahnya Galang datang padanya sebagai seorang sahabat. Entah mengapa Kenya sama sekali tidak dapat berbohong berkata bahwa Ia tidak akan pernah cukup dengan kata sahabat. Salahkan saja dirinya tapi sungguh lebih baik Kenya dan Galang saling melupakan daripada hanya akan terluka bila saling bersama. Toh Galang sudah punya kekasih yang jauh lebih bagus dari dirinya membuat alarm Galang bekerja keras untuk mempertahankan berlian yang Ia dapatkan tersebut dengan melepas Kenya yang tidak seberapa.Kenya mengangkat kepalanya ketika mendengar teguran Pak Dani padanya. Pria paruh baya tersebut mengangkat spidol ke udara dan menunjuk kearahnya, meminta Kenya untuk maju kedepan untuk menyelesaikan materi yang sama sekali tidak Kenya mengerti.
“Maaf pak, saya enggak ngerti.” Tukas Kenya setelah cukup puas memandang papan tulis dengan pandangan kosong.Kenya hanya dapat menunduk malu ketika mendengar ceramahan Pak Dani yang mengatakan Kenya adalah contoh murid yang tidak konsenterasi saat jam pelajarannya. Kedua jemari tangannya saling bertaut, mencoba menghilangkan kegelisahan ketika Pak Dani memanggil Galang maju kedepan menyelesaikan soal yang tidak Kenya selesaikan.
“Contoh si Galang. Dia kan sahabat kamu, seharusnya kamu bisa mencuri sedikit ilmu darinya. Jangan melamun saja dikelas!” tukas Pak Dani ketika Galang selesai mengerjakan soal tersebut dan duduk kembali ke tempat tanpa memandang kearahnya.Tanpa sadar Kenya menyunggingkan senyum lirih, bukan kepada teguran Pak Dani, tapi kepada pernyataan sahabat yang dikatakan Pak Dani. Entah mengapa kata sahabat terdengar begitu asing baginya kini. Parahnya ada rasa sakit menyelinap didalamnya ketika hanya mendengar kata sahabat atau nama Galang. Sepertinya Galang memang memberi pengaruh besar bagi Kenya.
“Yasudah. Duduk kamu. Lain kali Bapak tidak mau melihat kamu melamun lagi di kelas. Kalau kamu melamun lagi, kamu akan Bapak keluarkan dari kelas.” Tukas Pak Dani dengan sebuah helaan nafas panjang seolah tidak rela membiarkan Kenya kembali ke tempat duduknya.
“Sabar ya,Ken. Pak Dani emang gitu. Nyebelin banget! Cuman ke Galang aja baiknya karena Pinter, jago, apalagi bokapnya kan ada saham di sekolah ini.” ucap Claura mencoba menenangkan Kenya.Kenya dengan kedua mata berkaca kaca hanya dapat mengangguk pasrah lalu berpura pura sibuk pada hitungan fisika. Rasanya terlalu berat menjelaskan pada Claura bahwa mata Kenya yang berkaca kaca bukan untuk Pak Dani melainkan karena dia, Galang, pemuda yang menjelma menjadi sosok asing.
“Tapi aneh ya, kok Galang gak bantuin elo? Biasanya dia kan paling sewot tuh kalau lo maju. Pake acara lemparin kertas segala ke lo untuk jawabannya sampai sampai dia hampir bikin Pak Dani pusing karena pertanyaan jeniusnya. Mengingat kalian lagi bikin gue ngakak sendiri deh, suer. Kalian klop banget sih,Ken.” Ucap Claura memandang Kenya dan papan tulis dengan bergantian. Sepertinya gadis itu memang cukup cerewet, buktinya Ia mampu menggosip sambil menyalin soal yang dikerjakan Galang tadi.
Kenya hanya dapat tersenyum miris mendengar celotehan Claura. Sebaiknya Kenya diam tidak membalas daripada Kenya kembali terlempar ke masa lalu dan membalas celotehan Claura hingga tidak habisnya. Kenya menggeserkan tubuhnya sedikit miring dan menyembunyikan kepalanya agar tidak terlihat Claura. Diam diam air matanya menetes. Hatinya terasa perih mengingat kebiasannya dengan Galang yang tidak lagi mungkin terjadi apalagi diterapkan lagi sekarang.
“Gue aja kadang cemburu sama kalian dua. Udah kayak pacaran aja tuh. Sayangnya Galang udah punya cewek ya, cakep pula, eh pacar Galang…”
“Belajar dulu aja yuk. Tar Pak Dani marah lagi sama gue karena gue gak dengerin dia.” Ucap Kenya menyeka air matanya, memandang sekilas Claura sembari mengulas senyum tipis. Sangat sangat tipis hingga membuat Claura membalas senyum Kenya dengan kening mengerut. Kepala Claura bergerak memandang Kenya yang sibuk sendiri dengan buku tulis dan Galang yang memijit pelipis kepalanya dengan bergantian.
Seketika itu Ia hanya dapat terdiam. Pertanyaan yang selama ini dibenaknya bahkan menjadi pertaruhan hampir seluruh penjuru sekolah mereka terjawab sudah. Kedua sahabat yang tidak bisa dipisahkan sejak dulu sekarang sedang tidak akur.Menggeleng sedikit kepalanya, Claura mengeluarkan ponselnya diam diam lalu mengirimkan pesannya tanpa ragu. Diletakannya kembali ponselnya didalam saku rok lalu kembali memfokuskan diri pada Pak Dani. Benar kata Kenya, siapapun bisa mati kalau tidak mendengarkan penjelasan Pak Dani.
***
Lima menit lagi menuju surga para siswa siswi Budi Cinta. Kenya menguap berkali kali sembari menyimpan buku bukunya kedalam tas. Rasa lega tidak dapat Kenya sembunyikan. Ia bahkan menyimpan empat buku sekaligus dalam satu gengaman tangan kedalam tas hingga membuat beberapa bukunya terjatuh. Suara sorak sorak para murid diluar kelas cukup menganggu Kenya. Kepalanya mengangkat sedikit keatas sembari berjongkok memungut buku bukunya yang terjatuh. Kenya mengendikkan bahu melihat beberapa laki laki berdiri di balkon kelasnya. Ada yang melambaikan tangan, ada yang tersenyum manis bahkan ada yang saling bertepuk tangan ke lantai bawah.Nicon, salah satu teman sekelasnya baru masuk setelah kembali dari toilet. Pemuda itu memandang Galang dengan tatapan pasrah sembari menempuk pundak Galang berkali kali. Diam diam Kenya memandang hal itu dari tempatnya berjongkok.
“Cewe lo kesekolah kita,lang. Gila. Gue pasrah deh lang sama tantangan mereka buat coba rebutin hati cewek lo. Cewek lo cantik gak ketulung, udah itu setianya juga bikin semua cowok menyerah.” Ucap Nicon dengan dramatis membuat sekelas tertawa, kecuali Kenya.
Kenya menyelipkan anak anak rambutnya ke belakang telinga sembari duduk kembali ketempat duduknya. Kenya mencoba tidak memperdulikan hal itu dan berkutat pada ponselnya. Sama sekali Kenya bukan siapapun yang berhak akan kehidupan Galang. Bahkan untuk ikut larut dalam tawa yang berkaitan dengan Galang saja rasanya Kenya tidak lagi mampu.
“Haha. Kasihan. Maaf cewek gue tu setia. Mau elo godain dihadapannya, dia juga gak bakalan tergoda kalau bukan gue yang godain.” Canda Galang berhasil menusuk relung hati Kenya.
“Pas deh kalian,Lang. Gue kira cuman Kenya pasangan klop lo. Eh ternyata masih ada toh diluar sana yang lebih klop lagi sama lo.” Ucap Nicon seketika membuat sekelas berbisik bisik. Entah apa topik yang sedang dibicarakan mereka. Beberapa dari mereka ada memandang Kenya terang terangan. Kenya hanya menunduk, berpura pura tidak menyadari hal tersebut.
Bunyi bel menghentikan aktivitas mereka. Sekelompok demi sekelompok bubar untuk pulang. Begitu pula dengan Kenya. Ia segera bangkit dari duduknya. Rasanya Kenya ingin sesegera mungkin berbaring di kasurnya, tidur dan melupakan Galang.
“Eh Lang!” teriak Nicon ketika Galang hampir keluar dari kelas.
“Apaan?” Tanya Galang.
Kenya memelankan laju langkahnya sembari berpura pura sibuk dengan ponselnya. Dalam hati Ia menggerutu bodoh karena masih ingin tahu segala sesuatu mengenai Galang. Bodohnya Ia saja bukan sahabat Galang lagi. Kenya menggeleng pelan, mencoba menguatkan hatinya. Bukannya Kenya mau melupakan Galang? Bagaimana bisa jika Ia tidak menutup seluruh alat inderanya untuk Galang?
“Tadi Bu Tuti manggilin elo. Sorry gue lupa!” Teriak Nicon sembari menghapus papan tulis mengingat jadwal piket kebersihannya.
Terdengar decakan kesal Galang. Nicon tertawa geli dengan Galang dan menganggukkan kepala ketika Galang berkata akan segera ke kantor guru setelah menemui Gina terlebih dahulu. Kenya menarik nafas pelan lalu menyimpan ponselnya dan bersiap untuk pulang.
“Eh,Ken!” Panggil Nicon.
Kenya setengah berbalik memandang Nicon tanpa membalas panggilan Nicon. Entah mengapa kali ini firasatnya meminta Kenya segera lari dari hadapan Nicon. Dan benar saja, Nicon tersenyum jahil pada Kenya sembari berdecak pelan.
“Lo cemburu kan,Ken?”
“Gak! Gila lo?”
Nicon tertawa geli memandang Kenya,“Jadi kenapa lo pura pura jatuhin barang lo denger pembicaraan kita dan pura pura main handphone pas gue bilang tentang cewek Galang? Hayo ngaku ajah deh,Ken. Lo naksir kan sama sahabat lo sendiri?” Tanya Nicon seketika menjadikan Kenya sebagai pusat perhatian teman teman sekelas.Bisikan bisikan kembali terdengar. Kenya menahan dirinya agar tidak menunduk menahan malu. Kedua tangannya terkepal ingin menyangkal perkataan Nicon. Sial. Kenapa Nicon bisa menyadari gelagatnya sedangkan Galang yang sudah bersahabat dengannya selama enam tahun saja tidak mengerti apapun tentangnya.
“Jangan asal ngomong deh lo. Buku gue jatuh karena gue ceroboh tadi dan gue main handphone karena gue baca line dan baru ingat Kiran minta bawain buku kelas. Sotoy lo!” tukas Kenya geram.
“Bukannya buku kelas udah Juyi bawa tadi?” Tanya Nicon menahan tawa. Wajahnya memerah karena tawa melihat perubahan raut wajah Kenya. Sambil memegang perutnya Nicon menggeleng pelan, memandang Kenya dengan tatapan kasihan.
“Ck. Kalau suka ngomong aja kali. Eh tapi udah terlambat. Galang kan udah punya cewek, cakep lagi.” Ucap Nicon seolah menyindir Kenya tidak secantik Gina. Kenya menghembuskan nafas pelan lalu melempari Nicon dengan kalender yang berada dimeja guru dengan kesal.
“Terserah lo deh! Gue capek!” tukas Kenya berjalan pergi meninggalkan kelas. Dengan langkah lebar Kenya meninggalkan kelas menuju toilet. Seberusaha mungkin Kenya menunjukan wajah datar ketika beberapa orang memandang kearahnya sembari bercakap cakap dengan teman mereka. Aneh, Kenya bukan cewek populer di sekolah. Tapi kenapa hari ini banyak sekali orang yang seolah membicarakannya?
“Kak!”
Kenya memandang kearah sumber suara. Disana berdiri sekelompok cewek. Kenya mengerutkan kening. Dari gayanya kemungkinan mereka anak kelas sebelas. Entahlah. Kenya memandang mereka satu per satu.
“Ada apa ya?” Tanya Kenya sopan.
“Eg, kakak emang beneran udah enggak cakapan lagi ya sama kak Galang? Kok bisa? Karena apa kak?” Tanya salah satu dari mereka seketika membuat jantung Kenya berhenti berdetak. Kepala Kenya bergerak memandang sekeliling yang ternyata juga sedang memandang kearahnya. Kenya berusaha menahan tubuhnya yang gemetar sekarang. Ternyata benar dugaan Kenya. Kenapa sih segala sesuatu tentang Galang akan menyebar dengan begitu luasnya?!
“Karena Kak Galang udah punya cewek yang lebih cakep dari kakak ya? Atau karena kakak buat salah sama Kak Galang sampai sampai kalian jadi berantam kayak gitu? Soalnya gue sempat ngelihat Kak Kenya dan Kak Galang waktu itu lagi berantam.” Tukas salah satu dari mereka lagi seketika membuat kepala Kenya terasa pusing.
Kenya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban namun mereka nampaknya masih belum cukup puas. Bahkan ada dari mereka yang menunjukan foto Kenya dan Galang beradu mulut waktu itu. Entah dari mana mereka mendapatkannya. Suasana semakin riuh. Satu demi satu murid mengelilingi Kenya karena keingintahuan mereka tentang Galang hingga tanpa sadar Kenya memundurkan langkahnya.
“Enggak kok kami gak berantam.” Jawab Kenya berusaha tenang.
“Kak Kenya bohong tuh. Padahal tadi gue sempat berpapasan sama Kak Galang terus langsung aja gue nanya. Kak Galang aja bilang iya karena mereka gak cocok lagi.” Bisik salah satu dari mereka sembari menyipitkan mata kearah Kenya.
Tubuh Kenya merinding. Ia menundukan kepala menahan malu. Sungguh ada rasa sakit yang tidak bisa Ia jelaskan ketika tahu Galang sendiri membocorkan masalah mereka kepada orang lain. Ah Kenya. Bodoh kamu. Memangnya lo siapa sampai sampai Galang mau melindungi elo dari anak anak Budi Cinta? Seharusnya lo sadar kata melindungi sudah tidak ada dikamus Galang buat elo.
“Maaf gue sibuk. Gue duluan ya.” Ucap Kenya menerobos kerumunan tersebut. Sialnya Kenya mendapati Galang dan Gina berdiri tak jauh dari kerumunan tadi. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Ada tawa dalam percakapan keduanya hingga entah siapa yang lebih dulu menyadari kehadiran Kenya, keduanya berbalik memandang Kenya. Tawa yang terdengar Kenya mereda begitu mereka mendapati kehadiran Kenya.
Kenya menelan ludahnya susah payah. Bodoh, berkali kali Kenya merutuki dirinya sendiri. Kenya langsung berbalik arah demi menghindari keduanya dan berjalan ke toilet. Sesampainya di toilet, Kenya langsung menutup pintu toilet. Tubuh Kenya merosot jatuh. Bahunya bergetar hebat, tangis yang berusaha Ia tahan akhirnya pecah.Kedua matanya terpejam, mencoba membiarkan ketenangan yang menyusup dalam hati. Namun bukannya semakin tenang, air mata Kenya semakin deras membasahi pipinya. Kenya mengigit bibirnya kesal. Sungguh Kenya benci dengan Galang yang masih dapat tertawa sedangkan Kenya disini hanya bisa menangis.Tragis. Persahabatan hancur seiringan dengan nama baiknya. Semua orang menyalahkannya atas pertengkaran mereka berdua padahal jelas jelas Galang lah penyebab utamanya. Galang yang menghancurkan persahabatan mereka dari awal. Bukannya Kenya tidak mencoba mempertahankan, tapi nyatanya yang dipertahankan saja bersikap tidak peduli seolah berkata padanya gak ada lo gue juga bisa hidup.Kenya menutup mulutnya ketika Ia tidak lagi dapat menahan isakan tangisnya. Dibiarkan air matanya jatuh sekali lagi dengan hati yang terluka. Belasan menit kemudian Kenya membasuh wajahnya lalu keluar dari toilet. Sempat Kenya menoleh ke kanan dan kiri berharap kemungkinan kecil Galang menungguinya. Seketika itu Kenya tertawa miris. Ah Kenya lupa kini mereka sudah menjadi orang asing. Mana ada orang mau menunggu orang yang sama sekali tidak Ia kenal?
Kenya menarik nafas pelan lalu memilih pulang ke rumah. Mengistirahatkan seluruh tubuhnya adalah pilihan yang terbaik dalam masalahnya hari ini. Dan mungkin belajar melupakannya dari sekarang juga adalah cara yang paling tepat bagi Kenya. Ah kenangan, mungkin sebentar lagi kau akan terlupakan oleh waktu.
***
Beberapa bulan kemudian…
“Lang! tadi lo milih universitas mana?” Tanya Nicon setelah mereka mengisi lembaran kertas pemberian sekolah mengenai tujuan universitas mereka selepas dari pendidikan SMA.
Kenya yang sedari tadi sibuk dengan soal soal pun menghentikan aktivitasnya. Kepalanya bergerak, memandang sekumpulan orang yang berhasil menutupi tubuh mungilnya. Dadanya berdebar keras menunggu jawaban Galang. Sama sekali tidak dapat Ia pungkiri Ia penasaran dengan universitas pilihan Galang. Ada setitik harapan dalam hatinya bahwa Galang juga memilih universitas yang pernah mereka bahas dulu.
“Jerman.” Jawab Galang singkat membuat seluruh anak anak kelas mereka heboh. Ada yang langsung berlari ke arah Galang dan bertanya berbagai hal. Ada pula yang menggerutu kesal karena tidak mendaftar ke universitas yang sama bahkan ada yang mengumpat dengan terang terangan.
“Ha, Jerman? Gila lo bro. Kenapa mau ke Jerman sih lo?” Tanya Nicon setengah kesal.
“Memangnya ada yang salah dengan Jerman? Pendidikan disana maju bro. Gue bakalan sukses sepulang dari sana.” Tukas Galang.
“Jangankan Jerman, di negeri sendiri aja lo bisa sukses bro. Lo pinter. Lo bakalan mudah diterima di universitas mana pun di Indonesia. UI, ITB, UNPAD, STAN, masih banyak lagi Bro. Lo nggak nyesel pindah ke negeri lain, meninggalkan Indonesia?” Tanya Nicon
“Iya gimana dong. Bokap dan nyokap gue udah urus semua kepindahan gue.”
“Iyah,Lang. Jangan ke Jerman dong! Kita kita semua masih di kawasan sendiri. Masa tinggal lo yang di Jerman. Gimana kalau kita mau hang out bareng sama lo? Gimana komunikasinya?!” Tukas Rachel menyambung.
Kenya menutup matanya. Rasa sakit mulai menusuk hatinya dengan perlahan. Benar, Ia sungguh tolol. Untuk apa Ia mengharapkan janji mereka dulu untuk selalu bersama bahkan merancang masa depan untuk kuliah di negeri yang sudah mereka putuskan dulu?Galang sudah berubah,Ken. Dia udah enggak ngenal lo lagi. Dia udah nggak suka sama lo. Dia benar benar udah melupakan semua janji persahabatan kalian.Kenya menelan ludahnya susah payah ketika akal sehatnya berkata. Kembali Kenya memfokuskan diri pada kumpulan contoh soal soal ujian nasional. Sama sekali Kenya ingin menutup telinganya dari pembicaraan Galang yang selalu berujung dengan Gina. Ternyata keputusan awal Galang kuliah ke Jerman karena Gina juga melanjutkan studi disana.Kenya kembali menggeleng pelan. Ah Kenya. Posisi lo kan udah gak berarti sekarang.Kenya mengangkat kepalanya memandang ke sumber suara yang memanggil namanya. Kenya memandang Nicon dengan lurus.Pemuda itu mengangkat alisnya melihat sikap Kenya. Maklum sejak kejadian waktu itu, Kenya memilih menghindari Nicon disetiap kesempatan yang ada. Begitu pula dengan Nicon. Pemuda itu hanya tersenyum pada Kenya setiap kali mereka berpapasan tanpa berniat menganggu Kenya lagi. Ia sadar Ia sudah keterlaluan pada Kenya sampai sampai Kenya menjadi bahan pembicaraan hingga berminggu minggu,
“Lo lanjut kemana ken?” Tanya Nicon mengulangi pertanyaannya.Semua orang juga memandang Kenya seketika itu. Hampir mereka melupakan penghuni kelas mereka yang satu itu.
“Iya Ken. Lo lanjut kemana? Negeri atau swasta?” Tanya Claura ingin tahu.
Kedua tangan Kenya terkepal ketika kedua matanya tidak sengaja bertatapan dengan pemilik mata hijau yang sungguh membiuskan itu. Kedua pasang mata mereka bertemu. Seperkian detik keduanya saling bertatapan, melupakan fakta berpuluh puluh pasang mata memandang mereka dengan bergantian.Kenya tersenyum getir pada Galang, seolah sama sekali tidak terganggu dengan keputusan Galang yang sudah melanggar janji mereka dulu. Kenya langsung memutuskan tatapan diantara mereka dengan memandang Nicon.
“Gue swasta.” Jawab Kenya singkat.
“Swasta ya? Perguruan tinggi mana,ken?” Tanya Claura.
Kenya memandang Claura dengan datar. Berusaha Ia menahan dadanya yang terasa sesak seketika itu. Entah karena apa. Yang jelas bibirnya terasa keluh, tubuhnya terasa mendingin, air matanya hampir terjatuh. Kenya tidak mampu menyebutkan lokasi tempatnya akan melanjutkan pendidikan. Namun demi menghormati kebersamaan sekelas, Kenya berdeham pelan lalu berkata.
“Gue ke Australi,Cla.” Jawab Kenya seketika membuat seluruh kelas kembali terdiam. Kembali Kenya memandang Galang yang masih setia memandangnya. Pemuda itu mengerjapkan mata namun tidak mengeluarkan suara sama sekali.
“Ya Tuhan. Lo juga pergi jauh kali,Ken!” Tukas Claura berlari kearah Kenya lalu memeluk perempuan itu. Air mata jatuh dari pelupuk mata Claura. Bagaimanapun mereka adalah teman sebangku dan teman sekelas yang sudah bersama sama selama ini. Suka dan duka bersama mereka sekelas jalani.
Kenya tersenyum tipis sebagai jawaban. Beberapa teman wanita memeluk Kenya dengan hangat. Pasti ada rasa kehilangan diantara mereka. Sedangkan beberapa teman laki laki berjalan kearah Kenya, menyalami Kenya dengan hangat.
“Maafin gue ya,ken. Kalau gue tahu lo bakalan pergi sejauh itu, gue gak bakalan gitutin elo.” Bisik Nicon memeluk Kenya selayaknya teman sekelas biasa. Tidak hanya Nicon, ada beberapa teman laki lakinya seperti Rafa, Ferdinan, Thomas, Sam dan lainnya juga melakukan hal yang sama.
“Iya nggak apa apa kok.” Balas Kenya melepaskan pelukan Nicon.
Kenya baru saja hampir duduk kembali sebelum akhirnya Galang berjalan menerobos kerumunan. Pemuda itu memandang Kenya dengan lurus. Wajahnya masih begitu tampan namun ada sesuatu yang berbeda darinya. Tatapan mata dingin yang dulu selalu diberikan Galang padanya telah berganti menjadi tatapan hangat.
Kenya menundukan kepala, tidak mampu membalas tatapan hangat Galang. Hatinya sakit memandang Galang. Rasanya Ia ingin berlari saat ini namun sekali lagi Kenya tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri.
“Lo jadi ke Australi,Ken?” Tanya Galang.
Kenya terdiam. Hanya anggukan kepala sebagai jawaban. Sungguh bagaikan mimpi Galang berbicara padanya. Biasanya Galang sama sekali tidak mau bercakapan dengan Kenya. Kenapa semuanya menjadi seperti ini mendekati akhirKenya hampir jatuh ke belakang saat Galang berlari memeluknya. Galang mengusap punggung Kenya berkali kali. Kedua tangannya mengelus kepala Kenya seperti kebiasaan mereka dulu. Tubuh Kenya menegang. Kedua matanya membesar karena tindakan Galang. Tanpa Kenya sadari, kedua matanya berkaca kaca seketika itu.
“I’m sorry,Ken. Gue nggak jadi ke sana. Tapi gue janji gue bakal kunjungin elo. Gue bakalan merindukan masa masa kita,Ken. Gue…”
Kenya langsung melepaskan pelukan mereka. Setetes air mata jatuh ketika kedua pasang mata mereka bertemu. Sejenak Kenya melupakan fakta ada teman teman disekitar mereka berdua. Kenya menggelengkan kepala pada Galang lalu mengulaskan senyum tipis pada mantan sahabatnya.
“It’s okay,Lang. Lo ada alasan milih Jerman, sama seperti gue yang punya alasan milih Australi.” Jawab Kenya berusaha sekedarnya saja.
“Tapi Ken, kita udah pernah janji bakalan kuliah bareng di Australi. Kita udah prepare semuanya dan kita..”
“Sayangnya kita hanya bagian dari masa lalu.” Bisik lirih Kenya seketika mengubah tatapan hangat itu menjadi kesedihan.
Kenya menyeka air matanya yang terjatuh dan berusaha tersenyum lebih lebar kali ini. Kenya berusaha tertawa mencairkan suasana yang mulai tegang. Ia merapikan anak anak rambutnya lalu kembali memandang Galang. Hampir Galang membuka bibirnya untuk berbicara sebelum akhirnya Nicon dan beberapa teman lain menambah nambahkan pembicaraan. Sepertinya mereka mulai merasa aura yang berbeda dari mereka berdua.
“Berarti kita harus ngadain party dong buat elo sama Galang,Ken! Setuju gak kawan kawan?” teriak Nicon langsung mendapat persetujuan.
Kenya berusaha tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari Galang yang sedari tadi memandangnya. Kenya berusaha tertawa ketika teman temannya bercanda namun bukannya tawa yang keluar dari bibirnya, melainkan isakan tangis yang terdengar begitu mengenaskan baginya.Buru buru Kenya meminta ijin untuk meninggalkan kelas selama sesaat. Galang menahan tangan Kenya. Pemuda itu membalikan tubuh, memandang Kenya yang hampir meninggalkan kelas.
“Ken, gue..”
“Please,lang, jangan bersikap seolah kita masih seperti dulu. Gue merasa aneh dengan kita baru saja. Gue bersikap kayak tadi karena gue hormati teman teman kita. Gue gak mau buat mereka curiga. Jadi Please, jangan bersikap seolah elo menghormati gue.” Ucap Kenya menepis tangan Galang lalu berlari meninggalkan kelas dengan mata berkaca kaca.
Sadar, Kenya sadar benar perkataannya menusuk Galang. Namun apakah ini sepenuhnya kesalahan Kenya? Apakah memang semudah itu bagi Galang untuk bersikap bersahabat padahal selama enam bulan ini mereka bersikap seperti orang asing?
Gue nyakitin lo ya dengan perkataan gue,lang? lantas sadarkah lo kalau selama ini lo lebih nyakitin gue?!
Kenya berlari menuju koridor lantai satu yang tampak sepi. Tubuhnya langsung jatuh terduduk di kursi yang masih basah bekas hujan yang baru mereda. Bahunya bergetar karena tangis. Air mata Kenya terjatuh membasahi pipinya yang memerah. Sekali lagi Kenya menyesali semuanya, semua yang pernah terjadi antara dirinya dan Galang. Kalau memang Galang bisa mengecewakannya sedemikian rupa, apa artinya janji selama ini? apa artinya persahabatan mereka selama ini? kalau tahu begini bukankah lebih baik semula keduanya tidak saling mengenal?Kata peribahasa, tidak kenal maka tidak sayang. Memangnya kalau kenal akan berujung dengan kasih sayang? Kalau begitu kenapa Galang tidak? Kenapa?!
Karena lo gak berarti,Ken. Lo gak berarti sama sekali.
***
Ujian nasional sudah berlalu beberapa minggu yang lalu. Berita kelulusan juga sudah mereka dapatkan. Tak jarang pula ditemukan semua anak murid kelas dua belas Budi Cinta meneteskan air mata haru. Pertualangan selama tiga tahun berakhir sudah. Masa putih abu abu sudah mereka lepaskan. Kini adalah waktu merayakan kelulusan mereka dan sedikit tentang Kenya dan Galang.Perayaan kelulusan sudah mereka lakukan dua hari lalu di sebuah Hall yang sekolah mereka sewa selama sehari full. Selalu ada canda dan tawa yang berusaha Kenya ingat menjelang kepergiannya besok. Setiap kegiatan terekam jelas dalam handycam miliknya. Tidak lupa juga sedikit tentang Galang. Ia masih tampan. Sangat tampan dengan balutan jas yang tidak biasa Ia gunakan. Galang terlihat begitu dewasa, mengingatkan Kenya dengan sosok Ayahnya.
“Ken! Say Cheese!!!” Tukas Claura menghentikan lamunan Kenya.
Kenya mengangguk pelan lalu merangkul beberapa temannya, melakukan beberapa pose yang anggun hingga kocak tidak terlupakan. Kenya tersenyum geli melihat hasil foto Claura yang cukup bagus. Namun hal itu tidak membuat Kenya dan teman temannya merasa perlu berhenti berfoto. Semua dari mereka sibuk berfoto dan berbagi canda dan tawa.Di sela kegiatan, Kenya melirik Galang yang duduk tidak jauh darinya. Galang tertawa. Dan itu manis. Namun tawa Galang terhenti ketika tidak sengaja Galang menangkap lirikan Kenya. Galang memandang Kenya dengan sendu. Seolah banyak yang ingin Galang sampaikan padanya.Kenya mengangguk pelan sebagai sapaan pada Galang lalu kembali sibuk dengan teman lain. Baginya sekarang Galang tidak lagi lebih dari sekedar teman biasa. Bagaimana pun Kenya harus bisa move on. Galang dan Gina saja akan ke Jerman seminggu setelah kepergiaan Kenya. Masa sih Kenya harus tetap stuck di tempat yang sama.
“Guys, kita sudah sampai di puncak acara nih! Ayo ayo semuanya sedikit menjauh. Ken, Lang, kalian berdiri disini ya. Terus kita fotoin.” Tukas Nicon bersemangat.
Kenya menyelipkan rambut di belakang telinga. Sebisa mungkin Ia ingin bersikap biasa saja dihadapan Galang. Galang bangkit dari duduknya. Dengan tenang Galang berdiri disamping Kenya.Kenya langsung memalingkan wajah setiap bibir Galang terbuka hendak berkata. Akhirnya sesi pengambilan foto selesai. Tentu saja kali ini tidak ada foto kocak antara Galang dan Kenya, melainkan foto tegang seperti foto pasfoto. Kenya hampir saja kembali ke teman teman jika Galang tidak menahan tangan Kenya.
“Please, bentar doang.” Ucap Galang langsung menarik Kenya ke dalam pelukannya. Seketika itu kembang api dinyalakan begitu indah terpancar di langit. Malam itu Galang memeluknya dengan begitu erat seolah tidak rela melepaskannya.
Kenya hanya dapat diam, tidak mampu berkata sama sekali. Apalagi pada saat Claura membawakan cake untuk Kenya yang bertuliskan Take care Baby Ken & Mas mas Galang. We love you.Kenya hampir melepaskan pelukan mereka untuk meniup lilin cake tersebut namun Galang menahannya selama beberapa menit sampai Nicon datang membawa cake kesukaan Kenya yang berangka lilin 17.Air mata Kenya tumpah seketika itu. Cake tersebut ternyata diperuntukkan dirinya oleh Galang. Galang memandang Kenya dengan dalam. Sebelah tangannya memegang cake sedangkan sebelah tangan yang lain menarik pinggang Kenya agar mendekat kearahnya.
“Gue emang bukan sahabat yang baik buat lo,Ken. Gue terlalu jahat buat dijadiin sahabat. Tapi satu yang harus lo tahu, gue beneran sayang sama lo. Lo yang mengenalkan gue dengan dunia cinta untuk pertama kali. Walaupun kini hati gue bukan milik lo tapi gue tulus sama lo. Maaf karena masalah kita dulu. Gue bukan sengaja mau lupain ultah lo. Gue bahkan gak bisa tidur karena merasa terlalu brengsek gak berani ucapin ke lo. Gue menyesal,Ken. Gue sayang sama lo. Gue sayang banget sama lo. Gue sadar pacar aja enggak bakalan cukup tanpa sahabat. Lo udah kayak hidup gue. Gue serasa mati tanpa lo selama ini. Please, maafin gue, ken. Please,Ken.” Bisik Galang memeluk Kenya dengan begitu erat.
Kenya menahan sesak dalam dada. Tidak menyangka akan perkataan Galang baru saja. Kedua mata Kenya tertutup, mencoba meresapi pelukan terakhir Galang untuknya, mencium rakus wangi tubuh Galang. Dan baru saat itu Kenya sadar, Ia juga merindukan Galang. Ia membutuhkan Galang. Hanya saja ada penghalang diantara mereka yang tak mungkin dapat tergantikan didalam hati Galang.
“Iya,Lang. Gue maafin lo. Maafin gue juga,Lang.” bisik lirih Kenya.
Galang mengecup puncak kepala Kenya sembari mengumamkan terima kasih berkali kali. Galang benar benar menyesali tindakannya dan benar benar menjadikan malam perpisahan mereka sebagai malam terindah yang tak akan pernah terlupakan.
Malam itu adalah malam yang paling sempurna dalam hidup Kenya. Dikelilingi teman dan sahabat, berbagai canda dan tawa serta mengetahui fakta Galang pernah mencintainya, walau sudah terlalu terlambat untuk mengakuinya.Galang mengatar Kenya pulang. Hari hampir subuh. Galang masih tidak rela melepaskan Kenya saat itu. Berkali kali pula Galang menyempatkan diri mengambil foto bersama Kenya dan membuat video kocak yang cukup berhasil. Tidak lagi Galang pikirkan masalah kecemburuan Gina. Kenya adalah prioritas terpenting saat ini.
“Makasih ya lang buat tumpangannya. Makasih juga buat cakenya, buat tawanya dan bahagianya, buat semua kenangan yang gak bakal bisa gue lupain seumur hidup gue. Thanks for being my best friend Lang.” ucap Kenya ketika Galang menghentikan mobilnya didepan rumah Kenya.
Galang mengangguk pelan. Sebelah tangannya mengacak rambut Kenya. Kedua mata Galang berkaca kaca. Tidak dapat Ia pungkiri Ia merasa kehilangan saat ini juga. Galang langsung membawa Kenya dalam pelukannya.
“Ken, ijinin gue antar kepergian lo ke bandara besok,please.”
Kenya menggeleng pelan sebagai jawaban.
“Gak,Lang. Gue gak mau nge-repotin lo. Lo juga udah punya cewek. Gue cuman sahabat lo..”
Galang merasa frustasi. Ia langsung menarik kepala Kenya lalu menempelkan bibirnya di bibir Kenya. Seketika itu tubuh Kenya menegang. Sama sekali tidak pernah terbayang Galang akan merebut first kiss nya.
“Kalau itu mau lo.. baik. Baik,Ken. Gue gak bakal antar lo. Tapi lo harus janji lo harus jaga diri lo baik baik disana. Lo harus hati hati dan jangan makan junk food terus.” Ucap Galang sama sekali tidak meminta maaf akan ciuman singkat itu.
Semula Kenya ingin marah namun diurungkan niatnya. Ia membalas tatapan Galang dengan lembut. Matanya berkaca kaca namun sebisa mungkin Ia tidak mau menangis dihadapan Galang. Tangannya bergerak mengengam tangan Galang dengan lembut.
“Gue cewek,lang. Gue bisa masak. Justru lo yang jangan terus makan junk food. Lo juga bakalan ke Jerman nanti. Dan satu yang selalu gue ingatin ke elo, jaga apa yang sudah elo miliki,Lang. Jaga Gina dan jelaskan malam yang kita lalui bareng hari ini. Jangan buat dia kecewa. Dia cinta sama lo dan lo juga cinta sama dia.” Ucap Kenya tersenyum lembut lalu berjalan keluar dari mobil Galang setelah pamit.
Kenya merebahkan tubuhnya diatas kasur. Kedua matanya memandang ke langit langit kamar. Kedua tangannya menyentuh dadanya yang berdebar. Kenya sadar ciuman tadi salah namun sungguh Kenya tidak bisa marah karena itu.Kenya menarik nafas pelan, membuang semua belenggu dalam hati dan memutuskan untuk tidur. Besok adalah kepergiannya dan Ia tidak mau terlambat karena memikirkan malam ini. Biarkan malam berlalu. Lagipula Kenya sudah memiliki kenangan kuat yang tak akan pernah Ia lupakan.
Masa SMA, Teman teman sekelas, dan Galang.
Kenya tersenyum sendiri dalam tidur. Walau masih ada air mata dalam tangisnya. Karena itu mereka dinamai Beryl yang berarti batu hijau muda. Mereka masih terlalu muda untuk Cinta. Mereka semua hanyalah kumpulan ABG yang menikmati hari menjelang kelulusan. Kisah cinta dan persahabatan yang silih berganti berakhir tragis namun meninggalkan jejak kuat yang tak akan pernah terhapus sekalipun sampai akhir waktu. []
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar